HIDUP ADALAH UJIAN

SELAMAT DATANG DI BLOG " KHAIRUL IKSAN "- Phone : +6281359198799- e-mail : khairul.iksan123@gmail.com

Rabu, 29 Maret 2023

Muktamar Ahlussunnah Sedunia di Chehnya

 Mengapa Wahabi Keluar dari Ahlus Sunnah wa Jamaah?


Syekh Said Faudah, cendekiawan muslim dan pakar ilmu kalam dari Suriah ;

Sebagian orang mengatakan, "Mengapa kalian mengeluarkan Wahabi dari golongan Ahlus Sunnah padahal tidak ada pernyataan langsung dalam Muktamar Chechya bahwa Wahabi Bukan termasuk Aswaja?"

Muktamar Internasional Ulama Muslim atau Muktamar Ahlus Sunnah Wal Jamaah diselenggarakan di Grozny, ibu kota Republik Chechnya pada 25-27 Agustus 2016. Konferensi Chechnya ini membahas "Siapakah Ahlus Sunnah wal Jamaah? Penjelasan dan Klasifikasi Metode Ahlus Sunnah Wal Jamaah dalam Aqidah, Fikih, dan Akhlak, serta Dampak Penyimpangan darinya di Tataran Realitas".

Imam Besar Al-Azhar Syekh Ahmad al-Tayeb, para mufti dan lebih dari dua ratus ulama dari seluruh dunia hadir dalam muktamar ini. Acara ini terselenggara berkat dukungan dari Presiden Republik Chechnya Ramadhan Ahmed Kadyrov dalam rangka mengenang dan memperingati Presiden Ahmad Haji Kadyrov.

Hasil Muktamar Chechya ini antara lain mengeluarkan fatwa yang secara resmi menegaskan bahwa aliran Wahabi bukan bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Muktamar Chechnya berupaya meluruskan klaim sepihak dari kelompok Wahabi yang merepresentasikan diri sebagai kelompok yang paling Ahlus Sunnah wal Jamaah. Akibatnya mazhab Aswaja ini menjadi korban stigma lantaran paham Wahabi teridentifikasi sebagai ideologi kekerasan.

Untuk meluruskan stigma dan membedakan yang mana paham Aswaja dan Wahabi, muktamar Chechnya menegaskan bahwa Aswaja adalah Asy'ariyah dan Maturidiyah dalam akidah, empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni sesuai manhaj Imam al-Ghazali dan Imam Junaid serta para ulama yang meniti jalannya.

Saudi Arabia dikabarkan marah dengan keputusan muktamar ini. 

Syekh Said Faudah Yordania, cendekiawan muslim dari Suriah termasuk yang ikut hadir dalam muktamar. Simak penjelasan beliau yang menegaskan alasan mengapa Wahabi memang keluar dari golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Sumber :

1)      Mengapa Wahabi Keluar dari Ahlus Sunnah wa Jamaah? (sanadmedia.com)

2)      NGAJI | Mengapa Wahabi Keluar dari Ahlus Sunnah Wal Jama'ah? | Dr. Syaik Said Faudah Yordania - YouTube

 

مرئيات مؤتمر الشيشان

Chechnya Conference | مؤتمر الشيشان

 

DutaIslam.Com - Inilah beberapa rekomendasi Masil Muktamar Ulama Internasional di Chechnya Rusia dengan tema "Siapakah Ahlus Sunnah wal Jamaah Itu? " yang diselelnggarakan pada Hari Kamis-Sabtu, 25 - 27 Agustus 2016

 

بسم الله الرحمن الرحيم

- أهل السنة والجماعة هم الأشاعرة والماتريدية في الاعتقاد وأهل المذاهب الأربعة في الفقه، وأهل التصوف الصافي علمًا وأخلاقًا وتزكيةً.

 

Bismillahirrohmanirrohim.

 

Ahlussunnah Wal Jamaah adalah Al Asya'irah dan Al Maturidiyah dalam akidah, empat mazhab Hanafi, Maliki, Syafii dan Hambali dalam fikih, serta ahli tasawuf yang murni –ilmu dan akhlak— para ulama yang meniti jalannya.

 

- للقرآن الكريم حرم يحيطه من العلوم الخادمة له، المساعدة على استنباط معانيه، وإدراك مقاصده وتحويل آياته إلى حياة وحضارة وآدابا وفنون وأخلاق ورحمة وراحة وإيمان وعمران وإشاعة السلم والأمان في العالم حتى ترى الشعوب والثقافات والحضارات المختلفة عيانا أن هذا الدين رحمة للعلمين وسعادة في الدنيا والآخرة.

 

Al-Quran Al-Karim adalah bangunan yang dikelilingi oleh berbagai ilmu yang membantu untuk menggali makna-maknanya dan mengetahui tujuan-tujuannya yang mengantarkan manusia kepada ma’rifat kepada Allah SWT., mengeluarkan ilmu-ilmu yang terkandung di dalamnya, mengejawantahkan kandungan ayat-ayatnya ke dalam kehidupan, peradaban, sastra, seni, akhak, kasih sayang, kedamaian, keimanan dan pembangunan. Serta menyebarkan perdamainan dan keamanan di seluruh dunia sehingga bangsa-bangsa lain dapat melihat dengan jelas bahwa agama ini adalah rahmat bagi seluruh semesta alam, serta jaminan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

 

هذا المؤتمر نقطة تحول هامة وضرورية لتصويب الانحراف الحاد والخطير الذي طال مفهوم "أهل السنة والجماعة" إثر محاولات اختطاف المتطرفين لهذا اللقب الشريف وقصره على أنفسهم وإخراج أهله منه.

.

Muktamar ini merupakan titik balik yang berkah untuk meluruskan penyimpangan akut yang berbahaya yang mendominasi pengertian “Ahlussunnah Wal Jamaah” setelah berbagai upaya pencatutan kalangan ektremis akan istilah ini dan membatasinya hanya pada diri mereka serta mengafirkan umat Islam lainnya.

 

توصيات:

 

REKOMENDASI :

 

1. أوصى المؤتمر بإنشاء قناة تليفزيونية على مستوى روسيا الاتحادية لتوصيل صورة الإسلام الصحيحة للمواطنين ومحاربة التطرف والإرهاب.

 

Membuat channel TV  di  Rusia untuk menyampaikan citra Islam yang benar kepada masyarakat dan memerangi ekstremisme dan terorisme.

 

2. زيادة الاهتمام بقنوات التواصل الاجتماعي وتخصيص ما يلزم من الطاقات والخبرات للحضور الإيجابي في تلك الوسائط حضورًا قويًا وفاعلًا.

 

Perlunya memberikan kepedulian dan perhatian kepada berbagai media sosial, dan mengerahkan kemampuan dan keahlian yang diperlukan untuk ikut mewarnai dan memberikan dampak yang kuat di media-media tersebut.

 

3. أن يتم إنشاء مركز علمي بجمهورية الشيشان لرصد ودراسة الفرق المعاصرة ومفاهيمها وتشكيل قاعدة بيانات موثقة تساعد على التفنيد والنقد العلمي للفكر المتطرف واقترح المجتمعون أن يحمل هذا المركز اسم "تبصير".

 

Membangun Pusat Ilmiah yang kuat di Republik Chechnya untuk memantau dan mempelajari aliran-aliran kontemporer dan konsep-konsepnya, dan membuat data terpercaya untuk membantu membantah dan mengkritik secara ilmiah terhadap pemikiran ekstrem dan berbagai wacananya. Dan para hadirin di Muktamar mengusulkan pusat ilmiah ini bernama “Tabshir” (pencerahan).

 

4. عودة مدارس العلم الكبرى والرجوع إلى تدريس دوائر العلم المتكاملة التي تخرج العلماء والقادرين على تفنيد مظاهر الانحراف الكبرى.

 

Menyadarkan kembali berbagai lembaga pendidikan Islam yang besar akan jati dirinya, sejarah dan metodologi pendidikan mereka yang otentik dan klasik, dan kembali mengajarkan lingkaran ilmu pengetahuan yang integral, yang dapat melahirkan para ulama yang mampu membimbing umat, membantah berbagai fenomena penyimpangan pemikiran, dan menyebarkan ilmu pengetahuan dan perdamaian, serta menjaga tanah air.

 

5. ضرورة رفع مستوى التعاون بين المؤسسات العلمية العريقة كالأزهر الشريف والقرويين والزيتونة وحضرموت ومراكز العلم والبحث فيما بينها ومع المؤسسات الدينية والعلمية في روسيا الاتحادية.

 

Perlunya meningkatkan kerjasama antara berbagai lembaga pendidikan yang bergengsi, seperti Al-Azhar asy-Syarif, Al-Qarawiyyin, Zaitouna, dan Hadhromaut serta pusat-pusat ilmu pengetahuan dan penelitian, dengan lembaga-lembaga keagamaan dan ilmiah di Federasi Rusia.

 

6. ضرورة فتح منصات تعليمية للتعليم عن بعد لإشاعة العلم الآمن.

Pentingnya membuka sistem belajar-mengajar jarak jauh untuk menyebarkan ilmu yang benar, di mana sistem itu akan dapat melayani orang-orang yang ingin belajar namun terkendala pekerjaan mereka dari mengikuti pendidikan secara formal.

 

7. توجيه النصح للحكومات بضرورة دعم المؤسسات الدينية والمحاضن القائمة على المنهج الوسطي المعتدل والتحذير من خطر اللعب على سياسية الموازنات وضرب الخطاب الديني ببعضه.

 

Memberikan saran kepada pemerintah akan pentingnya mendukung lembaga-lembaga keagamaan dan instansi-instansi pendidikan  yang moderat, dan memperingatkan akan bahaya apa yang dilakukan beberapa pemerintah yang bermain kebijakan dengan mengadu domba wacana keagamaan dengan wacana yang lain. Karena itu justru akan semakin menambah kecemasan masyarakat, dan memecah persatuan mereka.

 

8. يوصي المؤتمر الحكومات بتشريع قوانين تجرم نشر الكراهية والتحريض على الفتنة والاحتراب الداخلي والتعدي على المقدسات

 

Para peserta muktamar merekomendasikan kepada Pemerintah untuk membuat perundang-undangan yang mengatur tentang sanksi atas penyebaran kebencian, saling memfitnah, dan perselisihan antar kelompok, serta pelanggaran lain di tempat yang suci.

 

9. أوصى المشاركون مؤسسات أهل السنة الكبرى، الأزهر ونحوه، بتقديم المنح الدراسية للراغبين في دراسة العلوم الشرعية من مسلمي روسيا.

 

Para peserta merekomendasikan instansi-instansi Ahlussunnah yang besar – Al-Azhar dan semisalnya- untuk memberikan beasiswa bagi muslim Rusia yang ingin belajar ilmu-ilmu syariat.

 

10. كما أوصى المشاركون بأن ينعقد هذا المؤتمر الهام بشكل دوري لخدمة هذه الأهداف الجليلة.

 

Para peserta merekomendasikan agar muktamar penting ini diselenggarakan secara berkala, untuk senantiasa mengkhidmah tujuan mulia ini, dan mengikuti berbagai tantangan yang muncul dan menghadapinya.

 

كما تقدم المشاركون بالشكر لفخامة الرئيس رمضان أحمد قديروف لجهوده المباركة في خدمة القرآن الكريم والسنة المطهرة.

 

Para peserta muktamar menyampaikan rasa terima kasih yang sangat besar kepada Presiden Ramdhan Ahmad Kadyrov atas segala upayanya dalam berkhidmah kepada Al-Quran dan As-Sunnah yang suci.

 

صدر في جروزني، جمهورية الشيشان 24 ذو القعدة 1437هـ، 27 أغسطس 2016.

 

Dirilis di Grozny, Chechnya, 24 Dzulqa`dah 1437 H, 27 Agustus 2016 M.

Source: 

Fanspage Alhabib Ali Al Jifri الحبيب علي الجفري

 

Sumber :

1)      chechnya-conference-statement-arabic.pdf (chechnyaconference.org)

2)      AHLUSSUNNAH - YouTube

3)      مؤتمر الشيشان - كلمة فضيلة الإمام الأكبر أ. د.أحمد الطيب - YouTube

4)      #مؤتمر_الشيشان كلمة سمو الأمير غازي بن محمد ألقاها مفتي الأردن الشيخ عبدالكريم الخصاونة - YouTube

5)      مؤتمر الشيشان - تعريف عام بأهل السنة - الشيخ د. سعيد فودة - YouTube

6)      تعقيب الشريف حاتم العوني على كلمة الشيخ سعيد فودة - مؤتمر الشيشان - YouTube

7)      دعاء الحبيب عمر بن حفيظ في الجلسة الافتتاحية - مؤتمر الشيشان - YouTube

8)      مؤتمر الشيشان - الضوابط الخاصة لتلازم منهج أهل السنة والجماعة ومنهل أهل التصوف - د. إدريس الفهري - YouTube

9)      مؤتمر الشيشان - الحبيب علي الجفري - آثار الخروج عن المنهج الأصيل لأهل السنة والجماعة على الواقع - YouTube

10)  مؤتمر الشيشان - أهمية المذهبية الفقهية وبيان تهافت اللامذهبية - د. أحمد عبادي - YouTube

11)  مؤتمر الشيشان - ماهية التصوف - الحبيب عمر بن حفيظ - YouTube

12)  مؤتمر الشيشان - عقيدة المحدثين وصلتهم بالتصوف - الشيخ أسامة الأزهري - YouTube

13)  مؤتمر الشيشان - البيان الختامي - القاء الشيخ د. أسامة الأزهري - YouTube

14)  مؤتمر الشيشان - كلمة فضيلة الشيخ صلاح مجيدوف مفتي جمهورية الشيشان - YouTube

15)  Ini 10 Rekomendasi Muktamar Ulama di Chechnya

16)  Inilah Hasil Muktamar Chechnya yang Membuat Arab Saudi Marah Besar | BentengSumbar.com

17)  «مؤتمر الشيشان» : «الوهابيين» ليسوا من أهل السنة - YouTube

18)  بَيانٌ وتِبيان عن حَقيقةِ مُؤتَمرِ الشِّيشان - الدرر السنية (dorar.net)

19)  بيان سماحة الشيخ القرضاوي رئيس الاتحاد العالمي لعلماء المسلمين حول مؤتمر "من هم أهل السنة والجماعة" بجروزني | موقع الشيخ يوسف القرضاوي (al-qaradawi.net)

20)  الوصف: مؤتمر الشيشان وإقصاء السلفية من مصطلح أهل السنة (mandumah.com)

21)  لقاء وكالة الأنباء الفرنسية فرانس 24 حول مؤتمر الشيشان | الموقع الرسمي للحبيب علي الجفري (alhabibali.com)

22)  من هم أهل السنة والجماعة يا مؤتمر الشيشان؟ – موقع الإسلام العتيق (islamancient.com)

23)  وكيل الأزهر عن "مؤتمر الشيشان": إذا لم تكن السعودية من "السُّنة" فمن يكون؟! (sabq.org)

24)  مؤتمر الشيشان للتعريف بأهل السنة يقصي أهل السنة - د. عثمان عبدالعزيز الربيعة (al-jazirah.com)

25)  شيخ الأزهر يرد على أكاذيب المتربصين حول "مؤتمر الشيشان".. ويؤكد: لا نعلم شيئا عن توصيات المؤتمر ولا نُسأل عنها.. وهناك من استغل المؤتمر لتشويه الأزهر.. ولم أقل أن السلفيين ليسوا أهل سنة وجماعة - اليوم السابع (youm7.com)


Senin, 27 Maret 2023

Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri

 


Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri

Dalam dunia fiqih seseorang baru disebut mukallaf (orang yang diberi beban) jika sudah sampai umur dan berakal, maka anak-anak dan orang gila yang akalnya tidak waras pada dasarnya tidak terikat dengan beban kehidupan, mereka bisa hidup bebas, bahkan sebebas-bebasnya, tanpa harus peduli kiri maupun kanan.

Orang-orang mukallaf ini dalam hubungannya dengan hukum syariah dan dalil terbagi dalam dua kelompok besar; Kelompok yang bisa menyimpulkan suatu hukum dari dalil yang ada dengan usahanya (ijtihad), dan kelompok yang tidak bisa atau belum mampu untuk menyimpulkan hukum sendiri.

Kelompok yang pertama dikenal dengan istilah mujtahid dan yang kedua disebut muqallid. Kedua kelompok ini wajib mengetahui hukum syariat dan mengamalkannya sesuai dengan kemampuan yang mereka punya. Kelompok yang pertama dibebankan untuk berijtihad sesuai dengan keilmuan yang mereka punya, sedangkan kelompok yang kedua diperintahkan untuk mengikut petunjuk yang pertama (taqlid).

Ibarat bepergian dari Ragunan ke Pasar Senen Jakarta, bagi yang memiliki kendaraan bolehlah mereka menggunakan kedaraannya untuk sampai ke tujuan dengan selamat, tapi bagi yang tidak memiliki kendaraan, mustahil rasanya kita paksa mereka untuk membeli kendaraan.

Ada baiknya dan memang sepantasnya mereka yang tidak memiliki kendaraan bergabung bersama mereka yang memiliki kendaraan, atau bisa menggunakan jasa angkutan umum; Kopaja, mikrolet, busway, atau taxi, dan lain sebagainya, terlebih jika mereka yang tidak memiliki kendaraan ini baru datang dari kampung halaman, buta dengan Jakarta.

 

Ijtihad Haknya Mujtahid

Sesuai dengan tuntutan seorang mujtahid, maka dalam beramal mereka diminta untuk berusaha mencapai suatu pemasalahan dengan langsung melihat dalil-dalil yang ada agar dengannya mereka bisa menyimpulkan sebuah hukum.

Bahwa kesimpulan yang didapatkan tidak bisa mengikat mujtahid lainnya, itu artinya dalam kode etiknya sesama mujtahid tidak boleh meng-copy paste hasil ijtihad dari mujathid lainnya, hasil itu harus benar-benar murni dari usahanya.

Jikapun terpaksa harus melihat hasil ijtihad mujtahid lainnya, maka kode etik berikutnya adalah bahwa mereka harus mencamtumkan foot note (catan kaki), atau menjelaskan kepada halayak ramai bahwa apa yang disampaikan itu adalah hasil ijtihadnya Imam Syafii, Imam Ahmad, atau imam mujtahid lainnya. Minimal tidak mengklaim bahwa itu adalah hasil ijtihadnya.

Inilah lebih kurang pesan yang ingin disampaikan oleh Ibnu Qudamah dalam Raudhah An-Nazhir ketika membahas bab ijtihad. Imam Ibnu Qudamah menjelaskan bahwa para ulama sepakat seorang mujtahid tidak boleh mengikut mujtahid lainnya

  المجتهد إذا اجتهد فغلب على ظنه الحكم، لم يجزْ له تقليد غيره[1]  

Dan mereka boleh menyampaikan pendapat imam madzhab lainnya kepada halayak, namun tidak boleh mengklaim bahwa itu adalah hasil ijtihadnya sebab dia hanya taqlid kepada mujtahid lainnya:

 ولكن يجوز له أن ينقل للسمتفتي مذهب الأئمة، كأحمد والشافعي، ولا يفتي مِنْ عند نفسه بتقليد غيره[2]

 

Orang Awam Wajib Mengikut (Taqlid)

Para ulama ushul menilai bahwa sepanjang syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk sampai pada level mujtahid belum ada, maka pada dasarnya mereka adalah awam. Karena pada dasarnya orang awam tidak mempunyai cukup syarat untuk berijtihad, maka disini mereka hanya diperintahkan untuk mengikut saja, ber-taqlid, tentunya mengikut para ulama mujtahid. Bahkan dengan tegas Ibnu Qudamah mengatakan wajib hukumnya bertaqlid kepada para ulama mujtahid.

Taqlid artinya mengambil pendapat mujtahid dalam suatu masalah tanpa mengetahui dalilnya, atau tanpa mengetahui dalilnya dengan sempurna. Ada awam yang memang benar-benar buta dengan pengetahuan akan dalil, tapi ada ada juga yang tahu sedikit tentang cara berdalil namun masih sangat kurang untuk menyimpulkan sendiri, keduanya sama awam, walau ada sedikit perbedaan.

Jika dalam satu negeri ada banyak mujtahid maka mereka yang awam berhak untuk mengikut siapa saja dari ulama mujtahid yang ingin mereka ikuti

للعاميِّ أن يقلد من شاء من المجتهدين  [3]

kaidah diatas masyhur dikalangan ulama ushul,  bahkan sebagian menganggap perkara ini sudah ada konsensusnya (ijma’). Untuk itu kita mengenal istilah bahwa orang awam itu pada dasarnya tidak mempunyai madzhab khusus yang mengikat, madzhab mereka adalah madzhab ustadnya (mufti)

  العامي لا مذهب له، بل مذهبه مذهب مفتيه [4]

Hal ini dikuatkan oleh Imam Nawawi dalam Raudhah At-Thalibin bahwa orang awam tidak harus berpegang teguh dengan satu madzhab tertentu, namun mereka boleh meminta fatwa kepada ulama yang mereka kehendaki, tanpa adanya niat dengan sengaja untuk mencari yang mudah saja

 [5]الذي يقتضيه الدليل أنه لا يلزمه التمذهب بمذهب، بل يستفتي من شاء، أو من اتفق من غير تلقط للرخص 

Sebagaimana firman Allah dalam ayat berikut:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl: 43)

Tinggal lagi permasalahan berikutnya adalah menentukan dan memilih siapa saja dari ulama kita yang masuk dalam level mujtahid. Ini penting untuk diketahui karena pada dasarnya sangat jelas bedanya antara ulama mujtahid, ulama yang belum sampai pada derajat mujtahid, ustadz, artis, pelawak dan dukun. Jangan sampai istilah ini menjadi bias, hanya karena media yang selalu menghadirkan mereka di televisi.

Jika kita adalah awam, sekiranya tidak ada kehinaan sama sekali dengan menyadari keawaman kita, dan setinggi-tingginya level awam tetap saja kita bukan mujtahid yang mempunyai hak utuh untuk berbicara dalil dengan sangat vokal, apalagi jika seandainya kita adalah awam pada level akut.

Proses belajar melalui majlis taklim, pesantren akhir pekan, melalui website, setidaknya menjadi awal dari bagaimana menyadarkan diri agar kita tahu bahwa sebenarnya selama ini kita tidak tahu, dengan pembelajaran seperti itu setidaknya kita bisa menaikkan level awam kita agar tidak berada pada posisi strata paling bawah, berharap sedikit demi sedikit kita juga mulai membaca dalil-dalil yang mereka gunakan.

Keberadaan awam dalam kehidupan ini tidaklah sehina yang dibayangkan, bahwa salah satu unsur stabiltas kehidupan justru karena adanya peran mereka yang awam. Keberadaan para pedagang yang sepanjang hari tidak pernah tahu dengan kitab-kitab ushul, fiqih, tafsir, hadits dan lainnya, sudah membantu masalah ini memenuhi hajat hidup mereka. Para sopir angkot, taxi, yang sepanjang hari berada di dalam mobilnya juga sudah membuat roda kehidupan berjalan. Petani sawah dan kebun yang sudah menanam padi, buah dan sayur tidak kalah pentingnya, sehingga dengan izin Allah kita makan dengan hasil penjualan mereka. Dan begitu seterusnya, yang ada justru sebenarnya hidup ini akan kacau jika semua orang diwajibkan untuk menjadi mujtahid.

 

Taqlid Bertentangan Dengan Pesan Ulama?

Sekilas bahwa pesan yang sering kita dengar dari para ulama bahwa: “Jika benar suatu hadits maka itulah madzbku atau pendapatku” haruslah difahami secara proporsional. Pesan ini sebenarnya ditujukan untuk para ulama mujtahid, bukan untuk selain mereka. Bagaimana mungkin orang awam akan mengetahui bahwa ada pendapat mujtahid yang bertentangan dengan Al-Quran maupun Hadits sedang mereka tidak pernah tahu dan tidak pernah selesai membaca semua kitab yang ditulis oleh ulama tersebut, dan buta dengan metodelogi mereka dalam menyimpulkan sebuah hukum. Ini yang kadang membuat kita tambah bingung, bagaimana mungkin orang awam mengahakimi ulama yang sudah sampai pada level mujtahid dengan mengatakan bahwa pendapatnya bertentangan dengan Al-Quran dan tidak sejalan dengan Hadits?

Jika pernyataan itu didapat lewat keterangan sebagian ustad, maka pada umumnya apalagi ustad di negeri kita ini belum sampai pada level mujtahid, jadi menentangkan pendapat mereka dengan pendapat para mujtahid menjadi tidak relevan.

Jikapun pernyataan  bahwa ada pendapat satu mujtahid yang bertentang dengan Al-Quran atau Hadits didapat melalui ulama besar dari negri Timur Tengah sana, maka keyakinan kita dengan pendapat ulama ini juga disebut dengan taqlid, lantas apa bedanya taqlid kita kepada ulama ini dengan ulama itu? Dan taqlid kita kepada ulama yang yang satu tidaklah lebih utama ketimbang taqlid kepada selainnya, karena tetap saja keduanya adalah taqlid.

Jadi permasalahan ini hanya akan relevan untuk sesama mujtahid, karena sedari awal sudah kita jelaskan bahwa hanya merekalah yang berhak berijtihad, dan bahwa hasil ijtihadnya tidak mengikat untuk ulama lainnya.

Jadi mari kita dudukkan permasalahan ini pada tempatnya. Dalam hal ini kita butuh membuka dua kitab; Kitab percaya diri dan kitab tahu diri. Untuk para ulama bolehlah mereka membuka kitab percaya diri dengan usaha yang sudah mereka lakukan, tapi buat kita yang masih awam mari membuka kitab tahu diri, bahwa sebenarnya kita hanya diminta untuk mengikut saja, tanpa harus menyalahkan pengikut lainnya.

 

Wallahu A’lam Bisshawab

Sumber dengan beberapa catatan penting :

Kitab Percaya Diri dan Kitab Tahu Diri | rumahfiqih.com

 

Sumber lainnya :

1)      موقف العامي من تضارب الفتاوى - فقه المسلم (islamonline.net)

2)      موقفنا من اختلاف العلماء - الإسلام سؤال وجواب (islamqa.info)

3)      موقف العامي عند اختلاف العلماء في الفتوى - إسلام ويب - مركز الفتوى (islamweb.net)

4)      ما يلزم العامي إذا اختلفت عليه أقوال العلماء ولم يدر أيها أرجح - إسلام ويب - مركز الفتوى (islamweb.net)

5)      موقف العوام من اختلاف العلماء (alukah.net)

6)      موقف المستفتي إذا اختلفت أقوال المفتين (binbaz.org.sa)

7)      الموقع الرسمي لفضيلة الشيخ / محمد بن صالح بن عثيمين رحمة الله تعالى - عند اختلاف العلماء بقول من يأخذ المستفتي؟ (binothaimeen.net)

8)      ص486 - كتاب أصول الفقه الذي لا يسع الفقيه جهله - سؤال العامي من شاء من المفتين - المكتبة الشاملة (shamela.ws)

9)      ما هو سبب اختلاف العلماء ؟ وما موقف العامة من هذا الخلاف ؟ - صوتيات وتفريغات الإمام الألباني (al-albany.com)

10)  ما هو موقف العامي من اختلاف العلماء في الفتوى الواحدة؟ (fatawapedia.com)

11)  دار الإفتاء - اختلاف العلماء في مسائل الفقه اختلاف رحمة (aliftaa.jo)

12)  دار الإفتاء - يجوز للعامي أن يقلد في كل مسألة من شاء من الأئمة (aliftaa.jo)

13)  ص322 - أرشيف ملتقى أهل الحديث - العامي واختلاف الفتوى - المكتبة الشاملة الحديثة (al-maktaba.org)

14)  واجب العامي عند اختلاف المذاهب - إسلام ويب - مركز الفتوى (islamweb.net)

15)  هل يجب على العاميّ أن يكون له مرجع يقلّده - إسلام ويب - مركز الفتوى (islamweb.net)

16)  تخيّر العاميّ من الفتاوى - إسلام ويب - مركز الفتوى (islamweb.net)

17)  رابطة العلماء السوريين | قسم عام | موقف العامي من اختلاف العلماء (islamsyria.com)

18)  ما هو الواجب على العامي تجاه اختلاف فتاوى العلماء؟ – دار الإفتاء الليبية (ifta.ly)

19)  مَن هو المؤهل للفتوى في دين الله؟ | موقع الشيخ يوسف القرضاوي (al-qaradawi.net)

20)  حكم الاكتفاء بنصوص القرآن والسنة دون الرجوع إلى فهم العلماء - الفتاوى - دار الإفتاء المصرية - دار الإفتاء (dar-alifta.org)

21)  اختلاف الفتوى في المذاهب عن نفس المسألة (almeshkat.net)

22)  هل اختلاف العلماء رحمة؟ وما موقف العامي منه؟ (salmajed.com)

23)  إذا اختلف العلماء في مسألة - عبد الرحمن بن عبد الخالق اليوسف - طريق الإسلام (islamway.net)

24)  تتَبُّـعُ الرُّخَصِ - الدرر السنية (dorar.net)

25)  شبكة مشكاة الإسلامية - الفتاوى - مسائل مهمة حول اختلاف العلماء والجهاد – الخلاف – الاختلاف (almeshkat.net)

26)  فتاوى الكبار : في موقف طالب العلم والعامي عند اختلاف العلماء في المسائل الشرعية - منتديات الإمام الآجري (ajurry.com)

27)  تقليد العامي لمذهب فقهي - فقه المسلم (islamonline.net)

28)  ص7 - كتاب دروس للشيخ أبي إسحاق الحويني - شرح قاعدة مذهب العامي مذهب مفتيه - المكتبة الشاملة (shamela.ws)

29)  ما صحة مقولة : " مذهب العامي مذهب مفتيه " | الملتقى الفقهي (feqhweb.com)

30)  بطلان مقولة (مذهب العامي مذهب مفتيه) (alukah.net)

31)  هل يلزم العامي بمذهب معين من المذاهب الفقهية الأربعة أم يجوز له أن يتخير ويقلد أي مذهب شاء؟ – الموقع الرسمي للدكتور وليد ابن الصلاح (drwaleedbinalsalah.com)

32)  الموسوعة الشاملة - فتاوى الأزهر (islamport.com)

33)  حكم تقليد العامِّي مذهبًا غير مذهب بلده لتخفيف الحكم - إسلام ويب - مركز الفتوى (islamweb.com)

34)  هل يلزم العاميّ أن يتمذهب ببعض المذاهب المعروفة | كوكب الفوائد- فلسطين (alfawaeid.com)

35)  ص255 - كتاب المستدرك على مجموع الفتاوى - هل يخير المقلد في المجتهدين - المكتبة الشاملة (shamela.ws)



[1]  روضة الناظر وجنة المناظر في أصول الفقه على مذهب الإمام أحمد بن حنبل (ج 2 ص 373)

[2]  روضة الناظر وجنة المناظر في أصول الفقه على مذهب الإمام أحمد بن حنبل (ج 2 ص 374)

[3]  "فتاوى العز بن عبد السلام" (رقم/46)

[4]  دروس للشيخ أبو إسحاق الحويني (7-134)

[5]  روضة الطالبين وعمدة المفتين (ج 11ص 117) تمام كلامه وَهَلْ يَجُوزُ لِلْعَامِّيِّ أَنْ يَتَخَيَّرَ وَيُقَلِّدَ أَيَّ مَذْهَبٍ شَاءَ، نُظِرَ إِنْ كَانَ مُنْتَسِبًا إِلَى مَذْهَبٍ، بُنِيَ عَلَى وَجْهَيْنِ، حَكَاهُمَا الْقَاضِي حُسَيْنٌ فِي أَنَّ الْعَامِّيَّ هَلْ لَهُ مَذْهَبٌ أَمْ لَا؟ أَحَدُهُمَا: لَا؛ لِأَنَّ الْمَذْهَبَ لِعَارِفِ الْأَدِلَّةِ، فَعَلَى هَذَا لَهُ أَنْ يَسْتَفْتِيَ مَنْ شَاءَ، وَأَصَحُّهُمَا عِنْدَ الْقَفَّالِ لَهُ مَذْهَبٌ، فَلَا تَجُوزُ مُخَالَفَتُهُ.وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مُنْتَسِبًا، بُنِيَ عَلَى وَجْهَيْنِ، حَكَاهُمَا ابْنُ بَرْهَانٍ بِفَتْحِ الْبَاءِ مِنْ أَصْحَابِنَا فِي أَنَّ الْعَامِّيَّ هَلْ يَلْزَمُهُ التَّقَيُّدُ بِمَذْهَبٍ مُعَيَّنٍ؟ أَحَدُهُمَا: لَا، فَعَلَى هَذَا هَلْ لَهُ أَنْ يُقَلِّدَ مَنْ شَاءَ أَمْ يَبْحَثَ عَنْ أَسَدِّ الْمَذَاهِبِ، فَيُقَلِّدَ أَهْلَهُ وَجْهَانِ، كَالْبَحْثِ عَنِ الْأَعْلَمِ. وَالثَّانِي وَبِهِ قَطَعَ أَبُو الْحَسَنِ إِلْكِيَا: يَلْزَمُهُ. وَهُوَ جَارٍ فِي كُلِّ مَنْ يَبْلُغُ رُتْبَةَ الِاجْتِهَادِ مِنَ الْفُقَهَاءِ وَأَصْحَابِ سَائِرِ الْعُلُومِ، لِئَلَّا يَتَلَقَّطُ رُخَصَ الْمَذَاهِبِ بِخِلَافِ الْعَصْرِ الْأَوَّلِ، وَلَمْ تَكُنْ مَذَاهِبَ مُدَوَّنَةً، فَيَتَلَقَّطُ رُخَصَهَا. فَعَلَى هَذَا يَلْزَمُهُ أَنْ يَخْتَارَ مَذْهَبًا يُقَلِّدُهُ فِي كُلِّ شَيْءٍ، وَلَيْسَ لَهُ التَّمَذْهُبُ بِمُجَرَّدِ التَّشَهِّي، وَلَا بِمَا وَجَدَ عَلَيْهِ أَبَاهُ، هَذَا كَلَامُ الْأَصْحَابِ. وَالَّذِي يَقْتَضِيهِ الدَّلِيلُ أَنَّهُ لَا يَلْزَمُهُ التَّمَذْهُبُ بِمَذْهَبٍ، بَلْ يَسْتَفْتِي مَنْ شَاءَ، أَوْ مَنِ اتَّفَقَ، لَكِنْ مِنْ غَيْرِ تَلَقُّطٍ لِلرُّخَصِ.